tak kenal maka kenalan, mari kenali tujuan, hukum dan tata cara sholat tarawih

 - Tujuan sholat tarawih 


Tujuan Sholat Tarawih adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT/ taqorrub, terutama selama bulan Ramadan. Beberapa tujuan utama sholat tarawih antara lain:

- Mendekatkan diri kepada Allah: Sholat tarawih merupakan ibadah sunnah yang  dilakukan setelah sholat Isya selama bulan Ramadan. Melalui tarawih, umat Islam berusaha meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

- Mendapatkan pahala dan ampunan: Sholat tarawih dilakukan untuk mendapatkan pahala yang berlimpah, terutama pada bulan Ramadan yang penuh berkah. Ibadah ini merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa mereka.

-Memperkuat ukhuwah: Sholat tarawih sering dilakukan secara berjamaah, yang dapat memperkuat tali persaudaraan dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam komunitas Muslim.

- Membaca dan merenungkan Al-Qur’an: Salah satu keistimewaan sholat tarawih adalah kesempatan untuk mendengarkan dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, karena seringkali bacaan Al-Qur’an dalam tarawih dibacakan secara lengkap selama bulan Ramadan.


- Hukum Melaksanakan Sholat Tarawih


Hukum melakukan sholat Tarawih adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim melaksanakan sholat Tarawih di malam Ramadan, maka akan mendapat pahala. Apabila tidak, maka tidak akan mendapatkan dosa. Sementara itu, hukum melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah adalah sunnah kifayah. Oleh karena itu, shalat tarawih juga bisa dilakukan sendiri.

Nah, walaupun hukum melaksanakan shalat Tarawih adalah sunnah muakkad, tetapi shalat Tarawih memiliki keutamaan yang amat besar. Mengingat amalan ini tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW selama hidupnya, dan diteruskan oleh para sahabat dan umat muslim setelah kepergiannya.

Shalat Tarawih tidak hanya sebatas salat sunnah yang hanya dikhususkan untuk Rasulullah SAW, namun juga untuk umatnya. Rasulullah SAW bersabda:

(‎مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  (متفق عليه

Artinya: “Barang siapa melakukan shalat (Tarawih) pada Ramadhan dengan iman dan ikhlas (karena Allah ta’âlâ), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘Alaih).

Tata Cara Sholat Tarawih

Dalam melaksanakan sholat Tarawih, bacaan yang kita gunakan kurang lebih sama seperti bacaan saat melakukan sholat wajib atau sunnah yang lain. Hal yang membedakan adalah bacaan niatnya. Berikut penjelasan mengenai tata cara sholat Tarawih yang benar:

1. Takbiratul ihram dan membaca niat sholat Tarawih

Sebagaimana saat kita melakukan ibadah sholat lainnya, sebelum melakukan sholat, diharuskan untuk membaca niat. Adapun bacaan niat sholat Tarawih, yaitu:

Bacaan niat sholat Tarawih sebagai imam ‎

 أُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا للهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā. 

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, sebagai imam karena Allah ta’ala.”

Bacaan niat sholat Tarawih sebagai makmum

‎أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatat tarâwîhi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’mûman lillâhi ta’âlâ. 

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, sebagai makmum karena Allah ta’ala.”

Bacaan niat sholat Tarawih secara munfarid atau sendiri

‎ اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku niat sholat sunnah Tarawih sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah ta’ala.”

2. Membaca surat Al-Fatihah

3. Membaca surat pendek atau satu potongan ayat pendek   

4. Rukuk   

5. I’tidal   

6. Sujud pertama   

7. Duduk di antara dua sujud 

8. Sujud kedua   

9. Lakukan hal yang sama, dari poin 2 sampai 8 untuk rakaat kedua

10. Duduk tahiyat akhir

11. Salam

Setelah dua rakaat selesai, ulangi sampai mencapai jumlah rakaat yang ditentukan.


 


Doa Setelah Sholat Tarawih

Setelah usai melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah, sang imam atau bilal akan memimpin untuk membacakan doa sholat Tarawih, atau doa kamilin. Berikut lafal doa kamilin dalam Bahasa Arab, Latin, dan artinya:


 


اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”


Berikut  rakaat sholat tarawih yang yang di anjurkan antara lain :

- Shalat Tarawih 8 Rakaat


Sebagian ulama mazhab Hanafi, seperti Imam Al-Kamal Ibnu al-Humam mengatakan, shalat Tarawih berjumlah 8 rakaat. Imam Al-Kamal Ibnu al-Humam dalam kitab Fathul Qadir menuliskan:

 

أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ سُنَّةٌ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ فِي جَمَاعَةٍ فَعَلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تَرَكَهُ لِعُذْرٍ… وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَشَايِخِ أَنَّ السُّنَّةَ عِشْرُونَ، وَمُقْتَضَى الدَّلِيلِ مَا قُلْنَا

 Artinya: “Sesungguhnya, Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan hukumnya sunnah, yaitu 11 rakaat dengan Witir, secara berjamaah. Hal itu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu ditinggalkannya karena ada uzur… Dan zahir pendapat masyayikh bahwa sunnahnya 20 rakaat. Sedangkan, menurut dalil adalah apa yang kami katakan (8 rakaat tanpa Witir).”

Nah, umumnya, mayoritas umat Islam di Indonesia melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 8 rakaat atau 20 rakaat dengan jumlah witir 3 rakaat. Jadi, 11 rakaat dan 21 rakaat jika termasuk salat Witir.

- Sholat Tarawih 20 Rakaat


Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, menegaskan jumlah rakaat shalat Tarawih adalah sebanyak 20 rakaat. Hal ini tertuang dalam beberapa kitab, di antaranya: Imam As-Sarakhsi dari mazhab Hanafi menyebutkan dalam kitabnya As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, juz 2, halaman 144:

 

فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا

 Artinya: “Maka sesungguhnya, shalat Tarawih itu 20 rakaat, selain shalat Witir, menurut pendapat kami.”

 Imam Ad-Dardiri dari mazhab Maliki menjelaskan dalam kitabnya Ad-Dardiri, Asy-Syarhu Ash-Shaghir, juz 1, halaman 404:

وَالتَّرَاوِيْحُ بِرَمَضَانَ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ غَيْر الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ

Artinya: “Dan shalat Tarawih di bulan Ramadhan, yaitu 20 rakaat setelah shalat Isya’, dengan salam tiap dua rakaat, di luar shalat Syafa’ dan Witir.”

Imam An-Nawawi dari mazhab Syafi’i menerangkan dalam kitab An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 3, halaman 527:

 

  مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ غَيْرِ الْوِتْرِ


Artinya: “Menurut mazhab kami, jumlahnya 20 rakaat dengan 10 kali salam, selain shalat Witir.”

Dari mazhab Hanbali, Imam Ibnu Qudaman menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni juz 1, halaman 456:

وَقِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ عِشْرُونَ رَكْعَةً يَعْنِي صَلَاةُ التَّرَاوِيْحِ وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَأَوَّلُ مَنْ سَنَّهَا رَسُولُ اللهِ

Artinya: “Dan qiyam bulan Ramadhan itu 20 rakaat, yaitu shalat Tarawih. Hukumnya sunnah muakkadah, dan orang yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”

- Shalat Tarawih 36 Rakaat

Sementara itu, sebagian ulama mazhab Maliki menyatakan bahwa shalat Tarawih berjumlah 36 rakaat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nafrawi:

وَكَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ يَقُومُونَ فِيهِ فِي الْمَسَاجِدِ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً… ثُمَّ صَلَّوْا بَعْدَ ذَلِكَ سِتًّا وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً… وَهَذَا اخْتَارَهُ مَالِكٌ فِي الْمُدَوَّنَةِ وَاسْتَحْسَنَهُ

Artinya: “Dan ulama salaf melaksanakan shalat Tarawih pada bulan Ramadhan di masjid-masjid dengan 20 rakaat… Lalu, setelah itu mereka shalat dengan 36 rakaat.”

#ramadhan #tarawih #ibadah #pengabdian #sholat #sunnatulloh

pengertian  sholat tarawih dan kautamaan-keutamaan sholat tarawih yang sering di abaikan.. link nya ada di bawah yaaaa

https://allohummapaksakeun.blogspot.com/2025/03/sholat-tarawih-dan-keutamaan-luar-biasa.html